Features: Inspirasi dari Sosiolog Perempuan Indonesia yang Mendunia

Wawancara dengan Prof Atik

Setiap wanita memiliki kedudukan yang sama dimata dunia. Hal demikian sering disebut dengan istilah Gender Equality. Bidang inilah yang kemudian digeluti oleh seorang cendekiawan cantik dari Yogyakarta yaitu Prof. Siti Kusujiarti, Ph. D. atau yang lebih dikenal dengan nama Prof. Atik, Ketua Departemen Sosiologi dan Antropologi, Warren Wilson College di North Carolina Amerika Serikat. Kami (Elsa, Naila & Gaby) berkesempatan untuk dapat bertemu dan berbincang singkat dengan beliau disela-sela kunjungan akademiknya ke Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES pada hari Jumat 26 Juli 2019. Prof Atik adalah seorang sosiolog perempuan Indonesia yang sukses menembus karir akademik sebagai dosen di Amerika Serikat, bahkan saat ini menduduki jabatan sebagai Kepala Departemen di Warren Wilson College.

Prof Atik menjelaskan ketertarikannya dengan bidang Sosiologi mulai muncul saat masih SMP sehingga saat SMA beliau mantab memilih jurusan Ilmu Sosial. Perjalanannya sangat panjang dan tidak mudah hingga bisa mencapai karirnya di Negeri Paman Sam. Dimulai dari tahun 1988 beliau mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magisternya di University of Kentucky, lalu beliau melanjutkan pendidikan doktornya dengan beasiswa di universitas yang sama sekaligus menjadi research assistant. Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Namun, tidak lama kemudian beliau mendapat tawaran kembali ke Amerika untuk mengikuti program post doctoral di Ohio University tahun 1997. Bersama dengan ex-advisor beliau berhasil menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Power, Change, and Gender Relation in Rural Java. Hingga akhirnya Prof. Atik mulai mengajar di Warren Wilson College di negara bagian North Carolina pada tahun 2000 dan akhirnya menjadi kepala Departemen Sosiologi dan Antropologi pada tahun 2008 sampai sekarang.

Dalam merintis karir hingga seperti saat ini beliau memperoleh dukungan dari suami tercintanya. Rintangan yang dilalui selama ini adalah seputar isu mengenai multiple roles of gender dalam pembagian tugas rumah tangga. Namun, hal itu tak lantas menjadi masalah besar karena nyatanya rasa saling memahami dan mendukung satu sama lain mampu terwujud di tengah kehidupan rumah tangga pasangan ini, sehingga Prof. Atik dapat melalui masa-masa perjuangannya di Indonesia-Amerika. Saat mereka memiliki seorang bayi berusia 3 bulan, Prof. Atik mendapatkan tugas dan tanggung jawab mengikuti post doctoral di Ohio University. Beliau pun menginginkan untuk menunggu buah hatinya sampai berusia 7 bulan namun suaminya memutuskan untuk mengambil alih tugas mendidik anak kecilnya selama 3 tahun di Australia sebelum akhirnya bergabung menemui Prof. Atik di Amerika Serikat dan menetap di sana. Walaupun demikian, hal ini tidak memicu munculnya stratifikasi dalam keluargnya. “Dalam arti konsep gender kita harus lebih fleksibel sehingga dapat membuat perempuan lebih maju” ucap Prof. Ati menyimpulkan.

Menjadi akademisi perempuan yang memiliki jam terbang tinggi tidak lantas membuat Prof. Atik terjebak pada fase jenuh dan bosan berkepanjangan terhadap segala kepadatan pekerjaan yang beliau miliki. Beliau pun dengan murah hati membagikan kepada kami mengenai resep menjaga semangat dalam menjalani suatu pekerjaan yang sedang digeluti. Beliau mengungkapkan, “Pertama, kita harus melakukan pekerjaan yang kita sukai, traveling, dan nikmati variasi kegiatan dalam pekerjaan, serta harus memiliki tujuan dan alasan yang jelas mengenai pekerjaan tersebut”. Hal ini berhasil beliau terapkan dalam kehidupannya, beliau melakukan segala kegiatan dalam pekerjaannya dengan enjoy, melakukan perjalanan ke berbagai belahan bumi dan pulang ke Indonesia setahun sekali yang mana dalam kesempatan pulang itu pun masih beliau gunakan untuk berbagi pengalaman dan ilmu seperti yang beliau lakukan dalam acara Guest Lecture di UNNES pada Jumat, 26 Juli 2019 dengan tema “Gender and Development”. Selain itu, Prof.Atik tidak lupa memberikan motivasi kepada para pemuda sekarang untuk memiliki tujuan yang jelas dan percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya. Prof Atik pernah mengatakan tidak akan menikah sebelum mencapai pendidikan S3 nya. Begitulah prinsip beliau yang pernah tertanam pada dirinya saat itu. “Yakinlah dengan tujuan hidupmu, percaya diri dalam mencapai tujuan”, demikian pesan inspirasi sang Kartini masa kini di akhir percakapan yang kami lakukan.

—- Kontributor:  Elsa-Naila-Gaby (SOSANT2018)—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *